cairuntuk mengatasi limbah industri batik di Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) dilakukan dengan metode fisika, kimia dan biologi untuk menurunkan kadar parameter pencemar. Adapun skema pengolahan limbah cair tersebut dilakukan sesuai gambar di bawah ini : Gambar 1. Tampak samping IPAL BBKB L2 L1 L3 L4 L1 L2L3 L4 Gambar 2.
Berdasarkanhasil penelitian,diperkirakan jumlah industri batik di Indonesia mencapai 6.120 unit dengan tenaga kerja sebanyak37.093 orang dan mampu mencapai nilai produksi sekitar 407,5 miliar
2 Kebudayaan Batik. Secara etimologis, kebudayaan berasal dari kata budi. Jadi kebudayaan adalah apa saja yang dihasilkan oleh kekuatan budi manusia, yang mencakup hasil cipta, rasa, dan karsa (budi, kehendak, dan perasaan). Namun, dalam perkembangannya ada sarjana yang membedakan antara 'budaya' dengan 'kebudayaan'.
Takhanya di Kota Pekalongan, industri batik juga menyebar di Kabupaten Pekalongan. Pengusaha batik asal Pekalongan dan pengurus Yayasan Batik Indonesia, Romi Oktabirawa, mengatakan, jumlah tenaga kerja batik (tulis dan cap) di Kabupaten Pekalongan diperkirakan mencapai 25.000 orang.
Surakartamerupakan pewaris Kerajaan Mataran Islam bersama dengan Yogyakarta melalui Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, kota ini termasuk dalam wilayah Solo Raya. Pusat industri batik di Kota Surakarta yang cukup terkenal berada di Laweyan dan Kauman kemudian dipasarkan di berbagai pasar tradisional seperti Pasar Klewer, Pasar Gedhe, Pasar
Sementaraitu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan antara pola batik Kraton KasultananYogyakarta dan warna batik Kraton Surakarta. Jika warna putih menjadi ciri khas batik Kasultanan Yogyakarta, maka warna putih kecoklatan atau krem menjadi ciri khas batik Kraton Surakarta.
Batikkemudian berkembang pesat pada era Kesultanan Mataram di daerah Surakarta dan Yogyakarta, dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nusantara. Thomas Stamford Raffles dalam buku The History of Java mencatat setidaknya ada 100 motif batik yang pernah dijumpainya di Jawa pada saat ia menjabat sebagai Gubernur Jenderal (1811-1816).
Penelitianini dilakukan untuk mengevaluasi postur kerja pada pengrajin batik tulis di Aleyya Batik Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan metode pendekatan cross sectional. Evaluasi Faktor Ergonomi Terhadap Stasiun Kerja Pengrajin Batik Tulis Di Industri Batik Tulis Amri Jaya Sidoarjo. Skripsi, Universitas
Semenjakperjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta.
IndisDi Kampung Batik Laweyan Surakarta iii. Furniture Gambar 17 : jenis kursi yang digunakan di rumah Laweyan Sumber : Skripsi Yudit Aditya, Kajian Arsitektur Dan Ornamen Pada Bangunan Rumah Tradisional Indis Di Kampung Batik Laweyan Surakarta (Gavel, domer dan tower) Gambar 18 : macam-macam bentuk kursi yang ada pada saat gaya kolonia abad ke 18
Ta38. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free VOL. 37 NO. 1, JUNI 2020, HAL 15 - - ISSN E 2528-6196 / P 2087-4294Akreditasi Kemenristekdikti 30/E/KPT/2018JEJAK-JEJAK DINAMIKA INDUSTRI BATIK YOGYAKARTA 1920-1930The Dynamics of the Batik Industry in Yogyakarta 1920-1930Farid Abdullah¹ dan Bambang Tri Wardoyo²¹Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudhi 229, Trisakti, Jl. Kiai Tapa 1, PenulisEmail kunci batik, sejarah, industri, YogyakartaKeywords batik, history, industry, YogyakartaABSTRAKTulisan ini membahas dinamika industri batik di Yogyakarta pada kurun waktu 1920-1930. Tujuanpenulisan ini adalah untuk mencermati kegiatan industri batik Yogyakarta masa lampau dan diperolehgambaran sosio-ekonomi masyarakat pada masa itu. Metode yang dipakai dalam tulisan ini adalahdeskriptif-kuantitatif dan sejarah. Sumber primer terkait kegiatan industri batik dalam tulisan inidiperoleh dari bukuHistory of Java, Raffles 1913,Batikrapport, Midden Java, P. de Kat Angelino1930, danDe Kleine Nijverheid in Imheemsche Sfeer en hare Expansiemogelijkheden op 1937. Industri batik di Yogyakarta pada kurun 1920-1930 juga didukung oleh keberadaanTextile Inrichting en Batik Proefstationyang didirikan pada tahun 1922 di Bandung. Kegiatanmembatik melibatkan berbagai suku bangsa seperti Jawa, Cina, Jepang, Eropa, dan Arab. Menelusurikegiatan industri batik di Yogyakarta mampu memberi gambaran produktifitas serta sejumlahpermasalahan industri batik Yogyakarta pada awal abad ke-19. Melalui tulisan ini diharapkan dapatdiperoleh gambaran serta perubahan-perubahan apa saja yang telah terjadi pada industri batikYogyakarta. Hasil kajian tulisan ini menjelaskan dinamika industri batik Yogyakarta yang sangat paper discusses the dynamics of the batik industry in Yogyakarta during the period purpose of this paper is to examine the activities of Yogyakarta batik industry in the past andobtain socio-economic descriptions of the community at that time. The method used in this paper isdescriptive quantitative and historical. Primary sources related to batik industry activities in this paperare obtained from the book History of Java, Raffles 1913, Batikrapport Midden Java, P. de KatAngelino 1930, and De Kleine Nijverheid in Imheemsche Sfeer en hare Expansiemogelijkheden opJava Sitsen 1937. The batik industry in Yogyakarta during the period 1920-1930 was alsosupported by the existence of the Textile Inrichting en Batik Proefstation which was founded in 1922in Bandung. Batik activities involve various ethnic groups such as Java, China, Japan, Europe andArabia. Tracing the batik industry activities in Yogyakarta is able to give an idea of productivityand a number of problems in the Yogyakarta batik industry in the early 19th century. Through thisarticle, it is expected to be able to obtain an overview and what changes have occurred in theYogyakarta batik industry. The results of this paper explain that the dynamics of batik industry inYogyakarta is very Masuk 21 Februari 2019Revisi 14 Mei 2019Disetujui 05 Juli 2019 Dinamika Kerajinan dan Batik Majalah Ilmiah. Vol. 37 No. 1, Juni 2020, hal. 15 - 24Abdullah, F., dkk, Jejak-Jejak Dinamika Industri Batik Yogyakarta 1920-1930PENDAHULUANAktifitas industri sudah berlangsungberabad lamanya pada peradaban era Revolusi Industri di Inggris padaakhir abad ke-18, hingga kemudianberkembang menjadi era Revolusi saat ini, telah banyak perubahan yangterjadi Wrigley, 2018. Berawal darimasyarakat agraris yang mengalami revolusiagraris agricultural revolution hinggaberalih ke pemakaian mesin dan sumberenergi baru Vries, 1994. Dalamperkembangannya, konsep Revolusi Industrikemudian juga dikritisi sebagai istilah keliru,mitos, dan termasuk ke dalam daftarrevolusi palsu O’Brien, 1993.Industri batik dalam negeri umumnyaberbentuk usaha kecil dan menengah,menggunakan teknologi produksi bawahdan menengah, orientasi kewirausahaanyang rendah, kerap melakukan imitasi, danmemperoleh contoh dari luar Poon, 2017.Usaha batik merupakan kegiatan pentingbagi masyarakat kota Yogyakarta padatahun 1930-an. Kegiatan industri batik diPulau Jawa, dalam catatan peneliti Barat,setidaknya dapat ditemukan dari bukuHistory of Java,Thomas Stamford RafflesRaffles, 1830, danBatikrapport, P. De KatAngelino Angelino, 1931.Industri batik di Yogyakarta masalampau sangat menarik untuk dikaji karenadalam perjalanannya terdapat dua kekuatanpenting bertemu yaitu kekuatan tradisi dankekuatan modern kolonial Abdullah, 2013.Kekuatan tradisi diwakili oleh keberadaankeraton sebagai satu pusat kebudayaanJawa dan kekuatan modern oleh masuknyausaha-usaha kolonisasi Barat Inggris -Belanda. Pendekatan Barat melaluisejumlah penelitian dan survei yangdilakukan, bertemu dengan tradisimasyarakat setempat yang semi-tradisionaldalam kegiatan industri batik. Jejakperjalanan industri batik Yogyakarta masalampau, juga menarik produsen pembatikasing seperti Cina, Belanda, Arab, 1. Suasana Yogyakarta tahun 1930SumberA. Collectie_Topenmuseum_straatbeeld_jogjakarta_tmnr_60018353Yogyakarta pada tahun 1920-1930adalah kota yang hidup gambar 1.Menurut survei Sitsen pada tahun1930, jumlah penduduk Yogyakartamencapai jiwa. Komposisipenduduk pribumi Yogyakarta yangmenekuni sektor industri non-pertaniansebanyak jiwa, atau sekitar seluruh penduduk. Sedangkanpenduduk Yogyakarta yang terlibat disektor industri mencapai jiwa atausekitar Sitsen, 1937. Dari surveitersebut menggambarkan komposisipenduduk yang menekuni pertanian danindustri non-pertanian relatif angka presentase tersebut,gambaran sektor industri yang merupakan angka yang cukup besar. Dinamika Kerajinan dan Batik Majalah Ilmiah. Vol. 37 No. 1, Juni 2020, hal. 15 - 24Abdullah, F., dkk, Jejak-Jejak Dinamika Industri Batik Yogyakarta 1920-1930Akar tradisi industri kerajinan hinggasaat ini masih banyak tersisa di penguasa kolonialBelanda dalam mengelola industri batik dipulau Jawa juga dilakukan dengan tahun 1922, didirikanlahTextileInrichting en Batik Proefstationdi kotaBandung. Lembaga ini didirikan untukmenjadi tempat yang mendukung kegiatanindustri tenun dan batik di pulau Jawa,termasuk kegiatan membatik di lembaga yang didirikan penguasakolonial Belanda berubah menjadi BalaiBesar Kerajinan dan Batik dari tulisan ini adalah,bagaimana kegiatan industri batik diYogyakarta pada kurun waktu 1920-1930?Aspek-aspek saja yang terjadi pada industribatik pada kurun waktu tersebut?METODOLOGI PENELITIANTulisan ini memakai metodedeskriptif-kuantitatif dan pendekatansejarah. Pengertian deskriptif sebagai“Suatu karya tulis prosa yang subyekkarangannya dalam pengertian penglihatan,suatu karangan yang mencatat ataumerekam suatu subyek” Komaruddin, 2007.Pertimbangan yang melandasi pemakaianpendekatan deskripsi adalah obyek yangdikaji dipaparkan menurut fakta-fakta yangada. Pendekatan deskripsi juga bertujuanmemaparkan kondisi yang ada sertamenguraikannya. Konsep deskripsimelibatkan manusia di dalamnya sebagaiobyek penelitian Sumartono, 2018.Tulisan ini memakai pendekatankualitatif karena menyentuh aspek memiliki fokus perhatian padaberagam paradigma yang terjadi dimasyarakat. Salah satu konsep dalampenelitian kualitatif adalah refleksivitas diri mengandung arti bahwaperlu dipertimbangkan terhadappengalaman, pandangan, dan peran penelitidi masa lalu yang mempengaruhi interaksidan interpretasinya terhadap medanpenelitian Sumartono, 2018.Tahap pertama pendekatan sejarahadalahheuristik,yaitu pengumpulansumber-sumber. Laporan dari P. De KatAngelino, berjudulBatikrapport Midden-JavaAngelino, 1931 dan SitsenberjudulDe Kleine Nijverheid inImheemsche Sfeer en hare Expansie-mogelijkheden op JavaSitsen, 1937dipakai sebagai dasar penelitian ini. Tahapkedua adalah kritik sumber yang ketiga adalah interpretasi darisumber yang diperoleh. Tahap terakhiradalah historiografi yaitu penyusunanseluruh fakta yang dimiliki danmengolahnya menjadi satu tulisan DAN PEMBAHASANKondisiUsaha batik secara ekonomi sangatpenting bagi penduduk Yogyakarta dansekitarnya. Siapapun yang mengunjungiYogyakarta pada tahun 1920-an, untukpertama kali akan melihat bagaimanahidupnya kota dan desa-desa. Banyakpenduduk hilir mudik dari desa ke kota dansebaliknya. Kesibukan di stasiun kereta api,di terminal bis, pesepeda, hingga berjalankaki, sarat membawa kain batik yangsedang diproses. Para pembatik cap dariKota Gede dan Mlangi terlihat setiap pagidan sore bersepeda atau berjalan kakimenuju Karang Kajen, selatan dari pusatkota Yogyakarta Surjomihardjo, 2008. Dinamika Kerajinan dan Batik Majalah Ilmiah. Vol. 37 No. 1, Juni 2020, hal. 15 - 24Abdullah, F., dkk, Jejak-Jejak Dinamika Industri Batik Yogyakarta 1920-1930Sangat menarik ketika mencermatijumlah pekerja batik di Yogyakarta padakurun waktu tahun 1920 hingga tabel jumlah usaha dan pekerjabatik di Yogyakarta pada tahun 1920 – 1924Tabel 1. Usaha dan Pekerja Batik Yogyakarta1920-1924Sumber Surjomihardjo, 2008Menurut pernyataan Asisten WedanaBantul, pada tahun 1930 diperkirakanterdapat usaha batik rumahan didaerahnya. Usaha batik ini melibatkanpekerja sebanyak kurang lebih pula di kabupaten Pandakterdapat orang pembatik. LaporanAsisten Wedana Bantul ini lebih mudahdiperoleh, karena banyak pengusaha batikYogyakarta yang menolak ketika dikunjungioleh petugas survei. Menurut Angelino,besar dugaan para pengusaha takut dikenaipajak oleh penguasa kolonial BelandaAngelino, 1931.Dinamika industri batik di Yogyakartaberlangsung berlangsung fluktuatif. Ketikasurvei dilakukan pada bulan Februari 1927,menurut Bupati Bantul, terdapat 151 usahabatik di daerahnya. Dari jumlah tersebut, takkurang pelaku usaha batik pada bulan Mei, 1930, dalam waktukurang dari 3 tahun, sebanyak 80 tempatusaha batik telah tutup. Beberapa juraganbatik beralih usaha, bahkan menjadi kusirandong. Beberapa tempat produksi batikCina telah beralih menjadi pedagang hasilpertanian seperti beras, kedelai, kacang, dangula kelapa Angelo, 1931. Gambaran inimenjelaskan betapa fluktuatifnya industribatik Yogyakarta masa lampau. Besarkemungkinan hal ini banyak terjadi padamasyarakat transisi dari pertanian menjadiindustri, seperti halnya yang pada RevolusiIndustri di Eropa tahun 1930, kegiatan industribatik Yogyakarta dilaporkan tersebar padasejumlah daerah dengan jumlah usaha yangberbeda-beda, seperti tabel di berikut 2. Sebaran dan Jumlah Usaha Batik diYogyakarta, 1930Sumber Angelino, 1931Tabel 2. di atas menjelaskan bahwakegiatan industri batik di wilayahYogyakarta dan Surakarta tersebar diberbagai penjuru kota. Usaha batik tidakterkonsentrasi di suatu tempat khusus. Baikdi tengah kota ataupun di pinggiran,bahkan di luar kota Yogyakarta Imogiri,Karang Kajen masyarakat satu pusat industri batik di kotaYogyakarta adalah Kauman. Sejak tahun1900 sampai 1930, Kauman telah memilikikesetaraan dalam bidang ekonomi danperdagangan batik. Mata pencaharianpenduduk Kauman, pada awalnyabersumber dari jabatan sebagaiabdi dalemKeraton Yogyakarta. Pada mulanya, istriparaabdi dalemini bekerja sambilan di Dinamika Kerajinan dan Batik Majalah Ilmiah. Vol. 37 No. 1, Juni 2020, hal. 15 - 24Abdullah, F., dkk, Jejak-Jejak Dinamika Industri Batik Yogyakarta 1920-1930rumah dengan membatik. Dalamperkembangan-nya justru usaha batik inimengalami kemajuan pesat sehinggamuncul pengusaha-pengusaha batiksetempat Darban, 2010. Ketekunan dansemangat wirausaha yang tinggi pendudukKauman, turut berperan menjadikanKauman sebagai produsen batik besar IndustriBagi ribuan perempuan desa di sekitarYogyakarta, keterlibatan mereka dalamusaha batik merupakan berkah. Disebabkanmemiliki keterbatasan seperti tidak dapatmeninggalkan rumah untuk waktu lama,namun masih ingin memperolehpenghasilan tambahan, maka membatikadalah berkah yang sangat ketekunan dan ketrampilan tanganyang tinggi, menyebabkan banyakperempuan desa Yogyakarta dapatbertahan pada industri batik Angelino,1931.Menurut survei Angelino pada tahun1930, usaha-usaha batik di Yogyakartadapat dikelompokkan sebagai berikut1. Usaha batik Jawa dan Cina, yangmembuat batik cap atau batik kualitaskasar;2. Usaha batik Jawa dan Cina, yangmembuat batik tulis halus;3. Usaha Batik Fuyi, milik orang Jepang;4. Dua usaha batik orang Eropa, wanitaGobee, membuat batik untuk seni;5. Usaha batik desa, untuk toko-toko besardi kota;6. Pembatik rumahan di desa;7. Usaha butik batik milik PangeranSuryadiningratan, membatik laporan Angelino di atas men-jelaskan bahwa industri batik Yogyakartajuga melibatkan berbagai suku, baik Jawa,Jepang, Cina, dan Eropa. Besarkemungkinan Arab juga terlibat namunterbatas di bidang perdagangan kain dari pedagang Arab ini membukaindustri batik cap di Pekalongan danmenjalin relasi dengan pengusaha KaumanAngelino, 1931.Proses ProduksiSeperti halnya kemajuan RevolusiIndustri, pembagian kerja juga ditemukanpada usaha batik Yogyakarta. Pembagian inijuga membentuk daerah-daerah peng-khususan pencucian kain, dari morisebelum dilakukan pencantingan, biasanyadilakukan di daerah seperti Ngadiwinatan,Purwadiningratan, Serangan, Kauman,Suranatan, Kadipaten dan PakualamanAngelino, 1931. Tahap pencucian kain iniumumnya dilakukan dekat sumber mata air,seperti sumur desa, maupun pengolahan limbah air cucianbatik, tampaknya belum dilakukan padaindustri batik masa daerah pengolahan kain moriatau pemukulan kain ngemplong,dikerjakan khusus oleh tukangkemplongdidaerah Suryataruna dan Serangan. Parapekerjakemplongini banyak melakukanperjalanan pulang pergi dari rumah merekamenuju tempat juragan batik di kotaAngelino, 1931. Pekerjaanngemplongdalam proses batik termasuk ke dalampekerjaan kasar yang umumnya dilakukanoleh kaum pria. Para pekerja ini kemudianmembawa kain hasilngemplongke pusat Dinamika Kerajinan dan Batik Majalah Ilmiah. Vol. 37 No. 1, Juni 2020, hal. 15 - 24Abdullah, F., dkk, Jejak-Jejak Dinamika Industri Batik Yogyakarta 1920-1930Gambar 2. Pembatik cap Yogyakarta tahun 1920sumberhttps//commons. TROPENMUSEUM_Interieur_van_een_batik-werkplaats_TMnr_ tempat pembatik dan juragan pembatik cap Gambar 2,banyak dikerjakan di desa-desa sepertiMlangi, Pakuncen, dan sudut desaPlosokuning, Kalasan, Imogiri, Palbapang,Batikan, Mangiran, dan Bantul Angelino,1931. Pembuatan batik cap ini termasukbatik dengan kualitas sedang dan memilikiharga relatif terjangkau dibanding denganbatik tulis. Para pembatik cap seluruhnyadikerjakan oleh pria, dikarenakan prosesbatik cap memerlukan tenaga dan staminatinggi, jika dibandingkan dengan mencelup dengan zat warnaatau disebutmbironi,umumnya dilakukandi rumah atau di bagian belakang rumahjuragan batik. Kegiatan mencelup banyakdilakukan di daerah Suronegaran, Ngasem,Kauman, Ngadiwinatan, Notoprajan,Pakualaman, dan Gading Angelino, 1931.Mencelup sebelum tahun 1914, banyakmemakai zat warna alam, namun seiringkemajuan penemuan zat kimiawi, maka zatwarna kimia mulai banyak dipergunakanoleh pengusaha batik peluruhan lilin batik atau disebutngerok, biasanya dikerjakan di dalam rumahusaha batik atau di desa seperti desaSerangan, Surojudan, Dongkelan, danWirobrajan. Proses ini termasuk pekerjaankasaran yang dilakukan oleh pembatik proses ini dilakukan kemudian kainbatik kembali diberi warna cokelat sogan,yang banyak melibatkan tenaga kasar dariSurakarta Angelino, 1931.Dalam catatan Angelino, proses inisesungguhnya banyak merugikan buruhbatik, karena harus menempuh jarak pulangpergi cukup jauh. Kegiatan inimenghabiskan waktu dan biaya yang tidaksedikit. Jarak antara satu tempat dengantempat lain ditempuh dalam hitungan jambahkan hari. Industri batik Yogyakartadalam amatannya, sangat tidak efisien dantidak dan BahanKurun waktu lebih jauh dari laporanAngelino, Letnan Gubernur Thomas Raffles juga melaporkan tentangkegiatan membatik di Pulau Jawa. Prosesmembatik memerlukan sejumlah alatproduksi. Berikut ini adalah peralatan yangdipakai dalam proses industri batik dalamamatan dalam bukunyaHistory of Java,dibantu seorang juru gambar Mr. WilliamDaniell Raffles, 1830 melaporkan alat-alatyang dipakai dalam proses produksi batikseperti di atas gambar 3.Sejumlah alat yang dipakai,digambarkan dari awal pembuatan benangdari bahan kapas hingga menjadi sehelaikain. Alat tenun gedogan back strap loom Dinamika Kerajinan dan Batik Majalah Ilmiah. Vol. 37 No. 1, Juni 2020, hal. 15 - 24Abdullah, F., dkk, Jejak-Jejak Dinamika Industri Batik Yogyakarta 1920-1930Gambar 3. Alat tenun dan batikSumber Raffles, 2008tradisional untuk membuat kain. Hinggacanting berlubang satu dan tiga, terhitungdigambarkan lengkap pada berat canting 1 ons juga dilaporkanoleh Raffles. Ketelitian ini tampaknya perludicontoh oleh peneliti pada masa produksi batik juga terhitungdetail dalam catatan Raffles. Prosespewarnaan untuk memperoleh warna yanggelap, dilakukan dengan cara mencelupkankain pada zat warna indigo tomJawasecara berulangkali Raffles, 1830. Namundemikian, dalam akhir laporannya, Rafflesmenuliskan bahwa proses produksi batik diPulau Jawa terhitung tidak efisien karenaproses produksi memakan waktu yangpanjang, tersebar di berbagai lokasi, sertabelum tertata kerja dengan BatikIndustri batik Yogyakarta pada masalampau melibatkan berbagai kalangan usiaseperti anak, remaja, orang tua, dan lanjutusia. Walaupun dalam laporan Angelinotidak mencatat secara spesifik usia danjumlah pekerja tersebut, namun hal inimenarik perhatian Kantor 4. Pembatik di Yogyakarta 1910-1940sumber pembatik usia dewasa diYogyakarta, umumnya bekerja berkelompokseperti gambar 4 di atas. Para pembatik inibekerja di halaman belakang rumah danmengelilingi satu wajan berisi lilin mori diletakkan di gawangan kayu danpembatik menggunakan canting untukmenorehkan lilin ke helai kain. Memakaikursi kayu pendek setiappembatik bekerja dengan tekun. Wanitapembatik yang sudah memiliki anak, kerapmembawa anak-anak mereka untuk survei yang dilakukan, Angelinomenemukan seorang anak laki-laki berusia10 tahun, tengah bekerja pada industri tersebut menemani orang tua merekamembawa kain ke kota. Demikian pulaterdapat seorang anak gadis berusia 10tahun yang membantu pekerjaanpencelupan mbironi. Pekerja anak-anak inibanyak ditemukan di pedesaan. Dalamamatan Angelino, hal ini terkait dengankondisi ekonomi keluarga. Namun demikian,dalam pola budaya Jawa, bisa saja ini terkait Dinamika Kerajinan dan Batik Majalah Ilmiah. Vol. 37 No. 1, Juni 2020, hal. 15 - 24Abdullah, F., dkk, Jejak-Jejak Dinamika Industri Batik Yogyakarta 1920-1930dengan bagian mendidik anak untuk turutmembantu kedua pedesaan luar kota Yogyakarta, anak-anak berusia 10 tahun telah dianggapmampu mengerjakan proses batik sepertimembuat garis nyetripi oleh keduaorangtuanya. Anak-anak tersebut berasaldari desa, baik anak sendiri maupun tersebut mengakui bekerja ataspermintaan kedua orangtuanya dan tidakmenerima upah memadai, namun jerihpayah mereka cukup untuk membelibeberapa butir permen Angelino, 1931.Bagi peneliti Belanda seperti Angelino, bisajadi hal ini sebagai sesuatu yangmenyedihkan, namun bagi kedua orang tuaJawa itu sendiri, ini adalah bagian dariproses mendewasakan seorang anakAbdullah, 2013.Sementara itu, di daerah Imogiri,ditemukan pekerja anak perempuan berusia7 tahun. Anak perempuan ini melakukanpekerjaan mencelup mbironi dengan upahsebesar 4 sen per hari. Pada umumnya,pekerja anak-anak ini bekerja di desa,berkelompok sebanyak 10 anak atau laporan Angelino, tidak ditemukanpelanggaran pada kegiatan melibatkananak-anak ini Angelino, 1931. Laporantersebut menjelaskan kondisi pekerja anakyang bekerja dalam keadaan baik dan tidaktertekan. Para pekerja anak-anak tersebut,umumnya didorong oleh kerabat atauorang tua mereka usia remaja, seorangpembatik desa yang telah terampil, dapatmenggantikan peran kedua dewasa ini kemudian akanmengkhususkan diri pada bidang-bidangtertentu proses batik seperti mencanting,mencelup, mengerok, dan ini dilakukan hingga digantikanoleh anak mereka, demikian regenerasi di keluarga pembatikYogyakarta berlangsung sangat alamiahAbdullah, 2013.Pekerjaan batik juga melibatkan banyakorang tua. Masyarakat kota Yogyakartaadalah masyarakat berpelapisan sosial, yangmembedakan kaum bangsawan dan lingkungan bangsawan kerap terlihat istripangeran yang membatik dan memenuhikebutuhan sandang keluarga. Terdapatsikap enggan kalangan bangsawan untukbekerja berkelompok dengan masyarakatbiasa. Namun ketika kebutuhan ekonomimendesak, banyak dari pangeran itu bekerjasebagai tukang kerok Angelino, 1931.Sikap pragmatis ini juga berlangsung padamasa-masa 5. Pembatik di Tamansarisumber COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_batikster_aan _het_werk_bij_Taman_Sari_het_waterkasteel_van_de_Sultan_van_Jogjakarta_TMnr_60026249Para pembatik berusia lanjut sering kalibekerja mandiri, di rumah atau di dalamkeraton gambar 5. Pembatik ini biasanyamemiliki keterampilan membatik tulis yangsangat baik. Pembatik tulis yang sudah Dinamika Kerajinan dan Batik Majalah Ilmiah. Vol. 37 No. 1, Juni 2020, hal. 15 - 24Abdullah, F., dkk, Jejak-Jejak Dinamika Industri Batik Yogyakarta 1920-1930sangat terampil ini bekerja dengan wajan,gawangan, dan tempat bekerja tersendiri,seperti di Tamansari keraton di kain-kain batik tulis yang belumdicelup, dijemur tanpa terkena DAN SARANKesimpulanIndustri batik yang hidup di Yogyakartapada awal abad ke-19 memperlihatkandinamika yang sangat tinggi. LaporanAngelino menunjukkan bahwa usaha batiktelah menghidupi banyak anggotamasyarakat Yogyakarta serta diyakinimerupakan berkah bagi pelakunya. Banyakgambaran tentang nilai-nilai kearifansetempat berupa pandai bersyukur atas apayang diperoleh, produktifitas, ketekunan,keuletan, dan kemampuan berbagi tugasdalam memproduksi sisi lain, dinamika industri batikYogyakarta juga menimbulkan dilema yaitumelibatkan anak-anak di bawah umur danpembatik lanjut usia. Pembatasan usia kerjabatik di Yogyakarta pada tahun 1920-1930belum dapat diterapkan dengan pembatik juga bekerja dalam waktuyang tidak teratur. Hal ini juga diketahuipenguasa Belanda, namun tidak dilaporkansebagai suatu bentuk penguasa kolonial BaratInggris, Belanda, mendokumentasikan,melaporkan hasil survei, hingga mendirikanlembagaTextile Inrichting en Batik Proefstationmerupakan kegiatan terstruktur dansistematis. Dalam perspektif Barat, industrikerajinan batik di pulau Jawa sangatpotensial. Kemampuan terstruktur dansistematis ini perlu dipelihara dandilanjutkan lebih jauh pada masa pesan yang dapat diperolehdari laporan Raffles dan Angelino tentangindustri batik di tanah air, khususnyaYogyakarta dan sekitarnya. Pemahamanterhadap pekerja batik, proses pembuatanbatik, bahan baku, serta nilai-nilai produksi,perlu dipahami oleh kalangan industri masakini. Saran juga dapat diberikan kepadapemerintah daerah Yogyakarta terhadapdaerah-daerah penghasil batik, perludilestarikan keberadaannya sebagai bagiandari warisan heritage jejak membuat laporan bangsaBarat Raffles, Angelino, Sitsen, danlainnya dapat dicontoh oleh generasi mudasaat ini. Peran lembaga pendidikan, jugaberperan besar dalam membuat laporanverbal. Laporan tertulis, baik dalam formatsederhana maupun rumit, terstruktur ataubebas, sangat penting sebagai satu artefakjejak-jejak PENULISKontributor utama dalam karya tulis iniadalah Farid Abdullah, dan Bambang TriWardoyo sebagai kontributor TERIMA KASIHUcapan terimakasih penulis sampaikankepada Prof. Edi Sedyawati, Dr. PrijantoWibowo, dan Prof. Djoko Suryo selakupromotor, ko-promotor, dan nara ini terlaksana atas bantuan dariUniversitas Indonesia 2012/ PUSTAKAAbdullah, F. 2013.Simbol pada Pola-pola BatikKraton Masa Sultan Hamengku BuwanaVI-IX Yogyakarta 1877-1988 KajianSejarah Seni, disertasi, Fakultas IlmuBudaya, Universitas Indonesia. Dinamika Kerajinan dan Batik Majalah Ilmiah. Vol. 37 No. 1, Juni 2020, hal. 15 - 24Abdullah, F., dkk, Jejak-Jejak Dinamika Industri Batik Yogyakarta 1920-1930Angelino, K. 1931.Batikrapport, deel II Midden-Java, Publicatie no. 7, Van Het KantoorVan Arbeid, Landsdrukkerij, A. 2010.Sejarah Kauman MenguakIdentitas Kampung Muhammadiyah,Yogyakarta Suara K. 1993.Introduction ModernConceptions of The Industrial Revolution,Cambridge The Industrial Revolution andBritish T. 2007.Kamus Istilah Karya TulisIlmiah, Jakarta penerbit Bumi S. 2017,The Journey to Revival ThrivingRevolutionary Batik Design and itsPotential in Contemporary Lifestyle andFashion, International Journal of Historyand Cultural Studies IJHCS, vol. 3, I, 1830.The History of Java, LondonJohn Murray, 2008.The History of Penerbit Narasi,Sitsen, 1937.De Kleine Nijverheid inImheemsche Sfeer en hareExpansiemogelijkheden op Java, dalamDjawa Tijdschrift van het Java Instituut,jaargang 17 2017.Metodologi PenelitianKualitatif Seni Rupa dan Desain. PusatStudi Reka Rancang Visual danLingkungan, Jakarta Fakultas Seni Rupadan Desain, Universitas A. 2008.Yogyakarta TempoeDoeloe Sejarah Sosial 1880-1930, JakartaKomunitas J. 1994.The Industrial Revolution andThe Industrious Revolution, The Journal ofEconomic History, vol. 54, no. 2, June 1994,Cambridge University 2018.Reconsidering the IndustrialRevolution England and Wales,Journal ofInter-disciplinary History, vol. 49, issue 1,The MIT InternetTextile Inrichting en Batik Proefstation. 2019.Retrieved Mei 9, 2019, from di Yogyakarta 1910-1940. 2019.Retrieved Mei 9, 2019, from Yogyakarta tahun 1930 2019.Retrieved Mei 9, 2019, _Straatbeeld_Jogjakarta_TMnr_60018353Pembatik di Tamansari 2019. Retrieved Mei 9,2019, from COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_ batikster_aan _het_werk_bij_Taman_Sari_ het_waterkasteel_van_de_Sultan_van_Jogjakarta_TMnr_60026249Pembatik cap Yogyakarta tahun 1920-1930Retrieved Mei 9, 2019 ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication. Stephen PoonMalaysian batik has permutated from a traditionalist position as a communal craft to becoming a brand identity feature of the nation. This paper provides in-depth understanding of the factors which have enabled the traditional batik craft sector to experience a popularity revival, despite perceived threats from mass-produced products. A review traces the evolution of batik through its roots, traditional elements and processes, followed by a discussion of the importance of this art form through examining the uses of Malaysian batik within the context of contemporary lifestyles. Batik's aesthetic, cultural and socioeconomic values will be examined to understand how they play a role in successfully revolutionising the local batik industry. Indubitably, the re-emergence of batik as an aesthetic and commercial art form has resulted from the market conditions of supply and demand. Through a questionnaire survey of local respondents and an interview, this research uncovered the perceptions and potential of batik art and design in contemporary lifestyles. Research findings demonstrated that public perceptions of its aesthetic value and versatile functionality were positive, and that inclusion of batik design into education as well media communication channels would improve its brand positioning. Interest could be stimulated through promotion on various media platforms. Cultural preservation was critical from the industry's perspective, and qualitative analysis found that current mass production of batik wear and modern furnishings to accommodate the needs of contemporary fashion must be balanced with continued, cohesive efforts to create brand awareness of the craft, to enhance brand loyalty towards Malaysian batik. Jan de VriesThe Industrial Revolution as a historical concept has many shortcomings. A new concept-the "industrious revolution"-is proposed to place the Industrial Revolution in a broader historical setting. The industrious revolution was a process of household-based resource reallocation that increased both the supply of marketed commodities and labor and the demand for market-supplied goods. The industrious revolution was a household-level change with important demand- side features that preceded the Industrial Revolution, a supply-side phenomenon. It has implications for nineteenth- and twentieth-century economic history. Patrick O'BrienThe Industrial Revolution and British Society is an original and wide-ranging textbook survey of the principal economic and social aspects of the Industrial Revolution in Britain in the eighteenth- and early nineteenth-centuries. The distinguished international team of contributors each focus on topics at the very centre of scholarly interest, and draw together the prevailing research in an accessible and stimulating manner the intention throughout is to introduce a broad student readership to important, but less familiar aspects and consequences of the first Industrial Revolution. A variety of different disciplinary skills are employed in the analysis of empirical and conceptual data, and each chapter opens up its subject with indications for further reading. The Industrial Revolution and British Society offers a topical overview on perspectives of this central historical problem, and will be widely used as a course text by teachers in the Anthony WrigleyIn the mid-sixteenth century, England was a small country on the periphery of Europe with an economy less advanced than those of several of its continental neighbors. In 1851, the Great Exhibition both symbolized and displayed the technological and economic lead that Britain had then taken. A half-century later, however, there were only minor differences between the leading economies of Western Europe. To gain insight into both the long period during which Britain outpaced its neighbors and the decades when its lead evaporated, it is illuminating to focus on the energy supply. Energy is expended in all productive activities. The contrast between the limitations inherent to organic economies dependent on the annual round of plant photosynthesis for energy and the possibilities open to an economy able to make effective use of the vast quantity of energy available in coal measures is key both to the understanding of the lengthy period of Britain's relative success and to its subsequent swift decline. © 2018 by the Massachusetts Institute of Technology and The Journal of Interdisciplinary History, Istilah Karya Tulis IlmiahT KomaruddinKomaruddin, T. 2007. Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, Jakarta penerbit Bumi Penelitian Kualitatif Seni Rupa dan Desain. Pusat Studi Reka Rancang Visual dan Lingkungan, Jakarta Fakultas Seni Rupa dan DesainSumartonoSumartono. 2017. Metodologi Penelitian Kualitatif Seni Rupa dan Desain. Pusat Studi Reka Rancang Visual dan Lingkungan, Jakarta Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Tempoe Doeloe Sejarah Sosial 1880-1930A SurjomihardjoSurjomihardjo, A. 2008. Yogyakarta Tempoe Doeloe Sejarah Sosial 1880-1930, Jakarta Komunitas Bambu.
Pemkot Surakarta Sebut Solo Miliki Potensi Besar di Bidang Tekstil ilustrasi. - Pemerintah Kota Surakarta menyatakan Solo memiliki potensi besar di bidang tekstil, yang salah satunya terlihat dari banyaknya industri batik di daerah tersebut. "Kota Solo sendiri merupakan kota batik terbesar di Indonesia," kata Sekretaris Daerah Sekda Kota Surakarta Ahyani pada kegiatan Solo Textile Mart 2022 di Solo, Kamis 17/3/2022. Ia mengatakan keberadaan Kampung Batik Laweyan dan Kauman menjadi bukti bahwa industri tekstil termasuk batik dapat menjadi komoditas belanja bagi masyarakat, khususnya wisatawan. "Dalam hal ini, komoditas tekstil jadi tumpuan utama industri batik dan turunannya, seperti fashion kriya perca maupun aksesoris hingga dekorasi interior," katanya. Meski demikian, diakuinya, saat ini muncul keluhan dari perajin batik terkait kenaikan harga bahan baku menyusul karena kurangnya pasokan bahan baku kain khususnya bagi industri batik. Ia mengatakan kondisi tersebut tidak hanya dialami oleh perajin batik tetapi juga pelaku industri komoditas tekstil yang lain. "Harus dipahami bahwa ini terjadi tidak hanya di Indonesia tetapi juga hampir di seluruh dunia karena gagal panen kapas di Amerika dan negara penghasil kapas dunia lainnya," katanya. Menyikapi kondisi tersebut, salah satu upaya yang dilakukan Pemkot Surakarta adalah dengan menyelenggarakan Solo Textile Mart dengan tema Lets Talk About Textile yang diharapkan menjadi ajang diskusi nasional untuk para pihak sumber daya industri tekstil. "Oleh karena itu, saya berharap diskusi ini dapat memberikan solusi untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku tekstil. Harus ada kolaborasi dengan para pihak untuk mengembangkan budidaya kapas mandiri sebagai upaya memenuhi pasokan kapas untuk komoditas kain bagi pelaku industri batik dan turunannya," katanya. Pihaknya juga berharap ke depan ada dukungan dari pemerintah pusat terkait kebijakan nasional dalam mendukung budidaya kapas secara mandiri. Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Surakarta Wahyu Kristina mengatakan solusi kelangkaan kapas tersebut dengan cara budidaya kapas. "Selain mencari solusi diharapkan juga tercipta jejaring dan penguatan kolaborasi antara pemangku kebijakan dengan pelaku industri tekstil dan turunannya," katanya. sumber ANTARA
PembahasanIndustri ringan atau sedang , merupakan penggolongan industri berdasarkan hasil produksinya . Industri tersebut menghasilkan barang-barang jadi yang langsung dapat digunakan oleh masyarakat . Contohnya, industri rokok, industri batik , industri pemintalan, industri percetakan, industri makanan dan minuman, industri kertas. Jadi jawaban yang tepat adalah C .Industri ringan atau sedang, merupakan penggolongan industri berdasarkan hasil produksinya. Industri tersebut menghasilkan barang-barang jadi yang langsung dapat digunakan oleh masyarakat. Contohnya, industri rokok, industri batik, industri pemintalan, industri percetakan, industri makanan dan minuman, industri kertas. Jadi jawaban yang tepat adalah C.