Dalam Alkitab Ibrani sendiri, perintah ini ditujukan terhadap penyalahgunaan nama Allah, bukan terhadap penggunaan apa saja. Terdapat banyak contoh dalam Alkitab Ibrani dan beberapa contoh dalam Perjanjian Baru yang memuat penyebutan nama Allah dalam sumpah untuk mengatakan kebenaran ataupun untuk mendukung kebenaran pernyataan yang disumpahkan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari Jabir ra., ia berkata, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Berilah nama anak-anak kalian dengan namaku (Muhammad) dan janganlah kalian memberi nama panggilan kepada anak-anak kalian seperti nama panggilanku. Sesungguhnya aku Abul Qashim, aku yang membagi di antara kalian.” (HR. Nama El/Elohim/Eloah (dalam dialek Arab = Allah/Ilah), adalah nama pertama Tuhan yang tercatat dalam kitab Kejadian sebelum nama Yahweh diperkenalkan kepada Musa dalam masa Keluaran (Kel.6:1-2). El digunakan sebagai nama diri dan juga sebagai sebutan untuk Tuhan, dan sekalipun Elohim lebih banyak digunakan sebagai sebutan, kadang-kadang Dikarenakan dari sejak Ruyl, Lejdecker sampai Bode, tetap menggunakan nama Allah sebagai translasi dari Theos dan Elohim, maka Lembaga Alkitab Indonesia berketetapan bahwa penggunaan nama Allah tetap sah dan relevan sebagai terjemahan untuk Theos dan Elohim, Lembaga Alkitab Indonesia, yang berdiri sejak tahun 1954, tetap mempertahankan nama 3.2. Contoh Penggunaan Nama “Al-Malik” dalam Al-Quran. Contoh penggunaan nama “Al-Malik” dalam Al-Quran dapat ditemukan dalam Surah Al-Mu’minun ayat 116: “Mengapa tidak di perhatikan oleh kaum yang mendustakan (hari kebangkitan) bahwa langit dan bumi (asalnya) adalah PUNCAK KARYA ALLAH dan Allah menjadikannya dengan petunjuk-Nya. Dan dengan doa menggunakan nama-nama Allah ‎ﷻ dapat mendekatkan diri dengan Allah‎ ﷻ. Ikut sahaja apa yang Allah ‎ﷻ suruh dan Allah ‎ﷻ suruh seru Dia dengan nama-Nya. 6) Sesungguhnya Allah menjanjikan syurga-Nya bagi orang yang mengamalkan Al-Asma’ Al-Husna secara hafalan, pemahaman, dan pengamalan yang sesuai dengan kandungannya. The use of the term “Allah” is still being called into question by some users of the Bible published by The Indonesian Bible Society (Lembaga Alkitab Indonesia–LAI). This problem has surfaced because there are some groups who refuse to use the term “Allah” and want to revive the use of the name Yahweh or Yahwe. Dalam kasus janji Allah kepada Abraham, Allah bersumpah dengan nama-Nya sendiri untuk menjamin janji yang Ia berikan, karena "karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya". Filo menunjukkan bahwa adalah wajar kalau Allah "bersumpah demi diri-Nya sendiri", kendati hal ini merupakan "suatu hal yang mustahil bari orang lain." Seseorang yang menyalahgunakan nama Allah akan “dipandang bersalah” oleh-Nya (Kel. 20:7). Di dalam Perjanjian Lama, nama Allah dicemarkan ketika seorang tidak melaksanakan nazar atau sumpah yang diambil dalam nama-Nya (Im. 19:12). Orang yang menggunakan nama Allah untuk menegaskan sumpahnya, namun tidak memenuhi janjinya, menunjukkan sikap “Untuk menghindari agar tidak terjadi kerancuan makna kata, sejatinya kita dituntut untuk menyingkap dan memahami dalam konteks apa manusia disebut dengan terma al-Basyar, al-Insan, al-Ins dan dalam konteks apa pula manusia disebut dengan terma al-Nas dan terma Bani Adam”, jelas KH. A. Nur di Ruang Seminar Selasar Lt. 3 Unas, Senin (3/10). LweY8.